Yang baru :

Selamat Datang! Silakan mencari artikel di blog ini. Blog ini masih dalam tahap construction. Terimakasih banyak sudah berkunjung :) mohon kritik dan sarannya

Selasa, 19 Maret 2013

Tentang G ~sebuah kado kecil

"Aku sama sekali belum mengenalnya. Ia bertanya siapa namaku, dan membuatku memperkenalkan nama panggilanku sebelum aku sempat bertanya siapa namanya."
Ia yang beberapa hari belum aku kenal karena aku jarang berbicara dengannya.
Ia yang memiliki nama hampir sama dengan orang lain hingga aku tidak bisa membedakan yang mana nama miliknya.
Ia yang suatu hari duduk di belakangku dan bertanya bagaimana nilai Geografiku tidak ada di data guru, dan memintaku bertanya kepada beliau.
Ia yang bertanya berapa nilaiku dan berkata bahwa aku hebat.
Ia yang tiba-tiba duduk di depanku dan berkata untuk mengajak bercerita bersama.
Ia yang mengambilkan penghapus juga bukuku saat aku tidak menyadarinya sudah terjatuh. Bahkan saat aku hanya ingin mengerjainya namun ia tetap mengambilkan bukuku.
Ia yang berkata "maaf" saat kursinya menginjak kakiku dan ia tidak melakukannya lagi.
Ia yang bertanya kepadaku tentang prestasiku mengenai kompetisi blog tingkat provinsi.
Ia yang bertanya kepadaku apa itu Blog. Sampai ia bertanya kepadaku apa alamat akun facebookku-yang pada akhirnya aku yang menambahkan ia sebagai temanku-
Ia yang mengajariku Fisika dan Kimia saat aku benar-benar tidak bisa menyelesaikannya.
Ia yang akhirnya bertanya kepadaku "apakah aku keturunan Jepang" dan bertanya nomor ponselku.
Ia yang mengirim pesan kepadaku untuk pertama kalinya namun aku tidak membalasnya.
Ia yang bertanya kenapa aku tidak membalas pesannya.
Ia yang bertanya kepadaku pertama kali saat aku tidak masuk sekolah karena harus opnam dirumah sakit.
Ia yang mendoakanku agar cepat sembuh.
Ia yang menghiburku dengan segala kekocakkannya.
Ia yang akan mengerjaiku kembali jika aku mengerjainya duluan.
Ia yang aku tidak menyangka bahwa ia lebih mengenal Jepang daripada aku.
Ia yang berkata tinggal di suatu Prefektur di Jepang dekat dengan Nagoya, dan ingin berkunjung di Osaka membawa semangka.
Ia yang berjanji akan membawakanku bunga Sakura satu tangkai atau satu ikat atau satu karung lebih dari tempat tinggalnya.
Ia yang bertanya kepadaku, dari sore sampai menjelang malam tentang informasi yang paling up to date saat terjadi gunung meletus yang radiusnya lebih dekat dari rumahku daripada rumah tempat tinggalnya.
Ia yang mengatakan kepadaku selamat tahun baru.
Ia yang mengatakan kepadaku untuk menuliskan kaligrafi tahun baru. *dan aku bertanya-tanya kenapa juga aku membuatnya?*
Ia yang aku tidak bisa berkata banyak kepadanya di depan banyak orang.
Ia yang aku berpura-pura untuk tidak mendengarnya, saat sahabatnya membaca pesanku di ponselnya.
Ia yang berubah sikapnya saat teman lain tau ia sering berkomunikasi denganku.
Ia yang akhir-akhir itu merasa terganggu jika aku ada di sekitarnya.
Ia yang akhirnya mencoba untuk tidak berbicara kepadaku.
Ia yang ikut satu kelompok denganku untuk tugas bahasa inggris. * Temanku yang ingin mengajaknya, aku hanya bilang tidak apa-apa dan teman lain langsung membicarakanku. Aku tahu itu resiko, tapi aku suka tantangan*
Ia yang tanpa satu katapun menolak saat aku memintanya melakukan sesuatu.
Ia yang terkadang aku melihatnya dari jauh sesaat saja saat ia tidak mengetahuiku.
Ia yang memiliki 1 kakak dan 1 adik.
Ia yang lebih tinggi jauh dariku.
Ia yang memiliki mata yang bagus dan senyum yang manis.
Ia yang bahkan aku tidak tau bahwa ia ternyata sering membicarakan aku kepada ibunya.
Ia yang saat kelulusan tingkat satu, yang bertanya kepadaku pertama kali lewat pesan, aku masuk ke kelas apa.
Ia yang bahkan aku merasa sedikit ada sesuatu yang kurang karena akhirnya aku tidak sekelas dengannya lagi.
Ia yang selalu menyemangatiku saat aku harus bertemu teman-teman yang master di semua bidang ilmu di kelasku yang baru.
Ia yang semakin lama aku semakin jarang berbicara dengannya.
Ia yang terkadang aku ingin mengajaknya berbicara lagi pertama kali.
Ia yang membuatku akhirnya terdiam dan melepas senyum saat aku bertemu dengannya.
Ia yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa saat aku bertemu dengannya.
Ia yang suatu hari mengirim pesan kepadaku dengan nomor barunya.
Ia yang ternyata masih menyimpan nomor ponselku.
Ia yang bertanya tentang materi apa saja untuk tes besuk harinya.
Ia yang memberitahuku apapun materiku untuk hari selanjutnya, padahal yang aku katakan itu semuanya hanya ingin memastikan ia tidak membuat jarak denganku, tanpa aku pedulikan ia memberitahuku semuanya yang dia tau tentang materi itu.
Ia yang awalnya sengaja aku mengerjainya lewat percakapan singkat via internet untuk mencarikan data untukku karena saat itu sudah larut malam dan aku belum bisa mendapatkannya.
Ia yang aku kira tidak akan membantuku, namun keesokan paginya, ia dengan sangat pagi telah memberikan data yang aku cari ke alamat emailku melalui pesan singkat saat aku masih tertidur lelap, yang seingatku aku tidak memberikan alamat email untuknya.
Ia yang sering berteman dengan teman laki-laki daripada perempuan karena aku yakin itu pasti masalahnya dulu karena aku.
Ia yang aku senang akhirnya ia bisa berteman dengan siapapun.
Ia yang semakin lama aku semakin jauh darinya dalam bidang ilmu.
Ia yang masih merendah saat aku mengatakan selamat atas peringkatnya.
Ia yang menatapku saat aku melihatnya selama beberapa detik.
Ia yang sekarang lebih banyak bersikap daripada berkata.
Ia yang meminjamiku lukisan penggulingannya.
Ia yang berkata kepadaku apakah aku akan masuk jurusan teknik arsitektur.
Ia yang memberikan semangat saat orang tuaku tidak mengabulkan permintaanku.
Ia yang tidak pernah absen jika aku meminta bantuannya.
Ia yang saat itu membuatku berpikir keras hanya untuk berpikir bagaimana caranya aku bisa mengucapkan 'tanjoubi omoedetou!' untuknya, tanpa ada orang lain yang tau.
Ia yang bertanya kepadaku kembali saat aku berkata dan bertanya sesuatu padanya pertama kali.
Ia yang pernah gagal tapi mendapatkan hasil sempurna kali ini!
Ia yang membuatku berpikir, aku tidak akan pernah setingkat dengannya dalam hal apapun! *ngamuk, ciaat! Layar lepi terbelah*
Ia yang sama sekali tidak berubah seperti saat tahun pertama aku berteman dengannya.
Ia yang tetap baik kepadaku, tetap membantuku saat aku benar-benar butuh bantuan ataupun hanya sedang bercanda
Ia yang menyemangatiku. Dan aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan karena aku sering membebaninya.
...
Maaf aku tidak bisa mengatakkan apa yang ingin aku katakan. Aku ingin mengatakannya tapi tetap tidak bisa. Mulai dari saat awal itu sampai dengan sekarang. Maaf untuk semuanya. 
Terimakasih sudah bertemu denganku. Saat kamu membaca tulisanku ini, mungkin yang aku tulis ini adalah hal kecil yang tidak penting, tapi aku senang masih bisa mengingatnya.

Kamu orang pertama yang bisa tau duniaku.
Tentang blogging itu, tentang bunga sakura itu, tentang osaka, tentang lukisan, tentang kelompok itu, tentang semangat itu.. tentang cerita-ceritaku.. tentang.. tentang.. Haha.. Pasti itu sudah banyak sekali.

Karena itu aku menyukaimu.

Tapi, aku akan mencoba berhenti melakukannya. Jadi mungkin kamu tidak terbebani lagi. Lagipula kamu terlalu jauh di depanku. Yang aku tulis itu semua sekarang hanya kenangan. Jadi, aku akan menyimpan semua kenangannya. Aku selalu mendukungmu untuk setiap kebahagiaanmu. Sekali lagi, terimakasih banyak.. Terimakasih banyak.. untuk semuanya :")
...

"Dalam beberapa hari lagi. tidak. mungkin tidak ada hari lagi. mungkin aku tidak bisa bertemu dengannya lagi seperti hari-hari sebelumnya. Melihatnya secara sembunyi-sembunyi seperti biasanya melewati koridor kelas yang sepi. Melihatnya bagaimana ia berjalan dari jauh."
Aku harap setelah hari itu, aku masih bisa bertemu denganmu, dan pastinya tetap berteman :) . 
Itu saja. 
Sudah cukup untuk membuatku senang.

0 comments: