Yang baru :

Selamat Datang! Silakan mencari artikel di blog ini. Blog ini masih dalam tahap construction. Terimakasih banyak sudah berkunjung :) mohon kritik dan sarannya

Jumat, 12 April 2013

Apel yang terakhir...

Pada suatu hari jumat saat jam istirahat. Di koperasi sekolah.

Fifi : " hari ini hari terakhir yaa, tif?" (sambil daydreaming)
Aku: " hmm... Terakhir apanya?"
Fifi : " hari ini hari terakhir kita pake baju batik smansa, kan tif." (katanya dengan berbinar-binar)
Aku: " mmm...." (mengangguk, berekspresi datar)
Fifi : " kok kamu biasa aja sih?" (marah, berjalan lebih cepat dan berlalu pergi)
Aku: " ...."
Dan seketika itu aku memandang temanku yang biasanya alay itu berjalan duluan tanpa menghiraukanku. Ia berjalan cepat hingga akhirnya masuk ke kelas yang terletak di deretan paling pojok. Aku yang semula terdiam segera berjalan. Aku memberikan seulas senyum dan sekedar menyapa Oki, Nanan dan Farid saat aku melewati kelas mereka. Aku mempercepat langkahku.  Aku tidak ingin jam makanku terbuang sia-sia. Aku menuju kelas yang ada di pojok itu. Kelas yang sementara ini kami siswa-siswi gunakan sebelum hari-H Ujian Hasional. Papannya yang belum terpasang karena bangunan itu baru selesai dibangun. Namun jika kamu sudah sampai di depan kelas itu, ada kertas HVS yang bertuliskan huruf berwarna-warni. Sinar matahari yang sampai ke jendela kelas itu membuatmu bisa membacanya dengan jelas dari balik jendela sekalipun kamu berada 5 meter dari sana. Di sana tertulis Kelas XII IPA 1.

...

Pagi. Dan aku harus mengayuh sepedaku lebih cepat karena aku yakin hari ini aku pasti terlambat. Film anime yang aku lihat kemarin sampai larut malam tidak bisa aku tinggalkan begitu saja, cerita fantasy yang aku suka itu membuatku terhipnotis untuk melupakan waktu. Jam berapa aku tidur. Aku tidak ingat. Hal itu yang menyebabkan aku terlambat di berbagai segi kegiatan di pagi hari ini. Terlambat bangun. Terlambat mandi. Terlambat makan. Dan terlambat memegang remot control yang artinya aku harus pasrah tidak bisa melihat acara televisi karena kalah cepat dengan ade ku. Hari ini seharusnya aku harus siap. Aku hampir saja melupakan momen yang berharga hari ini. Hari ini adalah hari yang sakral bagi ku. Bagi kita. Bagi kami siswa siswi di tingkat tiga. Sekolah Menegah Atas.

Hari ini apel pagi. Sudah biasa dengan kegiatan itu. Tapi, yang membedakannya dengan hari-hari yang lainnya karena ini yang terakhir. Yang hanya dihadiri oleh kita, siswa tingkat tiga. Aku tepat waktu. Setidaknya setelah memarkirkan sepedaku aku berlari menuju kelasku. Dengan tergopoh-gopoh bak sedang dikejar. Ya dikejar waktu. Akhirnya aku sampai dikelasku. Jam memang sudah pukul 06.45, seharusnya bel sudah berbunyi. Tapi jam sekolah memang molor. Aku memang tidak kaget. Tapi yang mengagetkan adalah teman-temanku belum datang semua. Hanya ada Novi dan tas milik Dea. Oke, hari ini memang tidak hanya aku saja yang terlambat.

...

Apel seharusnya dimulai. Bapak Surantiono sudah berbicara lewat mikrofon beberapa menit yang lalu. Tetapi para siswa masih asyik dengan kegiatan mereka. Ada yang di dalam kelas, sekedar bercanda, membahas film yang mereka tonton tadi malam, membahas pertemuan untuk belajar bersama. Ada yang di depan kelas, dan biasanya anak laki-laki. Mereka duduk bersama dan berbincang-bincang berbagai hal, sejauh ini aku tidak tau apa yang mereka bahas.

img_0585
apel berjalan dengan lancar, haru dan khidmat

Tepat saat bapak Kanti mulai berbicara di mikrofon. Kami, tidak pandang itu dari kelas apa, semuanya langsung berjalan melewati koridor-koridor kelas. Takut, jika kita kena marah.  Bapak guru Olah raga itu meminta kita sudah harus bersiap di lapangan tengah. Tidak sampai 15 menit kita sudah berjajar rapi per kelas. Kali ini hanya ada 1 divisi. Divisi kelas tingkat tiga. Apel dimulai, dan bapak kepala sekolah sebagai pembina Apel. Tidak sedikit para siswa yang berbisik-bisik dan melanjutkan cerita mereka yang terpotong tadi. Ya itu memang sudah biasa dilakukan. Walapun begitu apel hari ini berjalan dengan haru, khidmat dan sakral.

...

"Kami mohon maaf apabila melakukan kesalahan dan kami minta doa restu kepada bapak ibu guru agar proses UN besok berjalan lancar dan kami dapat meninggalkan kesan yang terbaik yaitu Prestasi yang Terbaik" kata Taufik, perwakilan dari siswa tingkat tiga.
Ia yang sebelumnya secara tiba-tiba ditunjuk sebagai perwakilan itu tidak sempat menyusun pidato. Tidak sedikit siswa yang tertawa dengan naskah pidatonya yang ia katakan seadanya. Dari kejauhan aku bisa melihat guru bahasa indonesia favoritku itu terseyum sambil menggelengkan kepalanya. Ya, pidato Taufik memang banyak salahnya, namun saat ia mengatakan Prestasi yang Terbaik. Kami memang harus sadar. Sadar karena besuk Senin-nya (15 April 2013) kita sudah harus berhadapan dengan tamu agung yang sudah kita tunggu selama ini. Tamu yang tak lain adalah Ujian Nasional.

img_0589
Taufik, perwakilan siswa-siswi tingkat tiga 

apel
ini aku, Fifi, Dion (ke atas) Yunita, Yesie, Novi, Karina, Winta sehabis apel :)

Prestasi?
YES! 
Jujur?
HARUS! 
Ujian Nasional?
SUKSES!
SMA Negeri 1 Klaten?
JAYA!

Kata-kata itu berkumandang berulang-ulang di saat Apel sudah berakhir. Motto kita, siswa-siswi masa depan bangsa untuk penyemangat kita menuju Ujian. Tidak hanya berakhir begitu saja, tetapi kami masih memiliki seremoni yang memang sudah tradisi siswa tingkat tiga lakukan dari pendahulunya. Kami memohon maaf dan meminta doa restu kepada semua bapak ibu guru dan karyawan SMA Negeri 1 Klaten agar kami bisa sukses mengerjakan Ujian Nasional. Semua hanyut dalam perasaan haru dan menyenangkan. Kami semua saling memaafkan. Kami semua saling mendoakan.
Acara pada hari jumat itu diakhiri dengan doa bersama.

img_0622
memohon doa restu kepada bapak kepala sekolah

img_0633
memohon maaf kepada ibu guru... ~mengharukan :')

Teeet!!!
Setelah mendengar bunyi bel, aku segera keluar kelas. Bukan untuk pulang melainkan menuju ke perpustakaan. Aku sudah berjanji akan belajar bersama teman-temanku. Aku membuka buku Matematikaku. Hari ini aku memulainya dengan belajar Matematika. Namun pikiranku bukan fokus pada lembaran soal yang ada di depanku. Rasanya ada sesuatu yang kurang. Namun sesegera saja aku tak menghiraukannnya. Ku buka lembaran soal yang baru, karena ternyata aku sudah mengerjakannya beberapa jam yang lalu.

...

Aku memutar-mutar pensil mekanikku beberapa kali. Ku ketuk-ketuk jari telunjukku. Tangan kiriku menopang daguku karena kepalaku sudah mulai berat rasanya. Aku melihat teman-temanku berdebat sengit. Menurutku itu debat yang hebat, karena mereka mempermasalahkan jawaban mereka yang berbeda dan salah satunya tidak mau mengalah. Aku menghela nafas. Ya, itu sudah biasa aku lihat. Aku mengalihkan perhatian ku ke sisi yang lain. Ke arah jendela. Awan cumulonimbus kali ini banyak sekali, langit biru yang cerah itu hanya terlihat sedikit. Dan pasti angin bertiup lama sekali. Aku bisa mengetahuinya lewat daun pohon palem yang melambai-lambai sedari tadi. Sedang aku masih ada di perpustakaan. Perasaan tentang sesuatu yang kurang itu datang lagi.

...

"Tif, ayo pulang!"
Temanku menyadarkanku dari lamunan. Sedari tadi aku aku berada dalam pikiranku sendiri. Aku lantas mengepak semua buku dan peralatan tulisku karena sebentar lagi pasti ayah datang mengingatkanku kalau jam kerja ayah di perpustakaan sudah selesai. Aku tidak ingin merepotkan ayah lagi. Karena biasanya aku bermain-main di perpustakaan dengan buku dan komputer hingga ayah harus datang ke mejaku untuk mengingatkan. Aku bergegas turun dan ternyata benar. Ayah sudah mau ke atas ruangan. Tapi tidak jadi. hehehe

...

Rumah kelihatannya sepi. Dan ternyata benar. Pintu pagar pun belum ada yang membuka. Aku memarkirkan sepedaku. Membuka tas, dan mencari kuncinya. Aku merogoh tasku. Sepertinya aku akan mengeluarkan kunciku agak lama. Aku takut sinar matahari akan membuat kepalaku bertambah panas. Angin pun tiba-tiba berhembus. Secara tak sengaja aku menengadah melihat langit. Ya, langit kali ini terlihat biru cerah dan beberapa awan. Indah sekali. Sampai akhirnya aku sadar akan sesuatu..    

"oh ini adalah hari terakhir aku mengenakan seragam batik ya." :)

--------------------------------------------------------------------
Note: Ayah itu Guru Seni Rupa, aku selalu memanggil beliau dengan sebutan seperti itu. Selain sebagai guru Seni Rupa, beliau juga menjabat sebagai petugas perpustakaan.

0 comments: